Rabu, 10 Juli 2013

"Selamat pagi.
Bagiku waktu selalu pagi. Diantara dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu paling indah.
Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung dedaunan. Ketika harapan-harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di persawahan hingga nun jauh di kaki pegunungan.
Pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi yang menyesakkan terlewati lagi; malam-malam panjang, gerakan tubuh resah, kerinduan, dan helaan napas tertahan..."


sebelumnya aku belum pernah membaca novel, apalagi membeli. tapi sejak saat itu, sejak merasakan 'malam-malam panjang, gerakan tubuh resah, kerinduan, dan helaan napas tertahan' -seperti pada paragraf awal novel ini- aku mulai menyibukkan diri dengan segala hal yang belum pernah kucoba. ya, novel ini adalah novel ke tiga yang kubaca sejak saat itu. 

hal luar biasa yang terjadi saat membaca novel ini adalah, aku merasa masuk ke dalam alur cerita yang dibuat Tere Liye ini. aku tahu benar sesaknya menjadi Tegar yang terus mencari makna 'kesempatan' dan 'keputusan'. tapi hebatnya lagi, aku benar-benar melakukan hal yang sama yang dilakukan Tegar saat sahabat baiknya Nathan menyatakan perasaannya pada Rosie, gadis yang telah dia cintai bahkan sejak Rosie masih  berkepang dua, 'menyibukkan diri'. meski ini bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.
takdir mereka memang kejam, namun berujung indah. tapi lagi-lagi ini hanya cerita yang dikarang manusia, cerita kita? hanya Dia yang berhak menentukan.
berikut beberapa kalimat yang kudapat dan terus terngiang dari novel ini:

"Tidak ada mawar yang tumbuh di tegarnya karang."

"Mawar akan tumbuh di tegarnya karang, jika Kau menghendaki."

"Cinta itu persahabatan, semakin kamu mengenalnya semakin kamu mencintainya."

"Biarlah kata kesempatan bagiku menjadi milik guratan nasib. Aku merasa cukup dengan semua perjalanan cintaku."


"Aku harus menyibukkan diri. Membunuh dengan tega setiap kali kerinduan itu muncul. Ya Tuhan, berat sekali melakukannya… Sungguh berat, karena itu berarti aku harus menikam hatiku setiap detik."

“Tahukah kau, Tegar, untuk membuat seseorang menyadari apa yang dirasakannya, justru cara terbaik melalui hal-hal menyakitkan. Misalnya kau pergi. Saat kau pergi, seseorang baru akan merasa kehilangan, dan dia mulai bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya dia rasakan.”

“Kebahagiaan dan rasa sedih itu terkadang tidak ada bedanya. sama-sama membuat tidak bisa tidur. Hanya saja rasa bahagia tidak membuat tubuh melakukan gerakan resah atau helaan napas panjang. Rasa gembira hanya membuat sesak.”


"Bukankah semua itu sederhana? Bukankah masalah itu amat sederhana? Meski harus membuat hati lebur berkeping-keping."
 
“Mengerti bahwa memaafkan itu proses yang menyakitkan. Mengerti, walau menyakitkan itu harus dilalui agar langkah kita menjadi jauh lebih ringan. Ketahuilah, memaafkan orang lain sebenarnya jauh lebih mudah dibandingkan memaafkan diri sendiri.”


“Tak Peduli seberapa membahagiakan atau menyedihkan, hidup harus terus berlanjut. Waktulah yang selalu menepati janji dan berbaik hati mengobati segalanya.”

"Bagi seorang gadis, menyimpan perasaan cinta sebesar itu justru menjadi energi yang hebat buat siapa aja yang beruntung menjadi pasangannya, meskipun bukan dengan lelaki yang dicintainya. Bagi seorang pemuda, menyimpan perasaan sebesar itu justru mengungkung hidupnya, selamanya."

"kau tidak akan pernah mendapatkan seseorang kalau kau terlalu mencintainya."

”Hanya waktu yang selalu berbaik hati mengobati kesedihan.”


"Apakah dunia memang begitu? Kita tidak pernah mendapatkan sesuatu jika kita terlalu menginginkannya. Kita tidak akan pernah mengerti hakikat memiliki, jika kita terlalu ingin memilikinya."

dan yang terakhir, "Berdamai dengan masalalu, bukan melupakannya."

   
banyak pengertian baru tentang perasaan yang aku dapat dari novel ini, indah sekali kawan, menikmati setiap jengkal kehidupan, menafakuri segala yang terjadi disekitar, bermuhasabah diri atas keputusan bodoh dimasa silam. pada akhirnya, kisah getir di masalalu hanya akan membuat guratan senyum di bibir terlihat lebih indah. 
sepertinya setelah ini akan berburu buku-buku Tere Liye yang lain, hehe

2 comments

  1. saya juga baca novel ini kaa! hahahaha. lily paling greget.

    BalasHapus
  2. iya dek, di chapter-chapter akhir emang bikin emosi naik turun, tapi si lily jadi terkesan terlalu dewasa, padahal baru 3 tahun, haha

    BalasHapus

Tweet to me!

Tahukah kamu?

""

Followers

Featured Posts

Copyright © 2013 Mogi Bian Darmawan | Dark Simple Blogger Template Powered by Blogger | Created by Renadel Dapize | Ori. BRS-bt Djogzs | All Rights Reserved