Saya adalah orang yang istimewa karena memiliki pengalaman hidup yang sangat menarik. Saya memiliki pengalaman luar biasa sebagai Ketua OSIS SMAN 14 Jakarta, tempat dimana orang-orang yang lebih hebat dari saya berada. Saya seorang yang optimis dan easy going. Keahlian saya bermain musik khususnya gitar membuat saya mudah dekat dengan teman-teman. Kemampuan saya lainnya yang dapat diandalkan adalah public speaking dan kemampuan mempengaruhi yang kuat.

Saya melanjutkan kuliah di fakultas pertanian terbaik di Indonesia, di departemen dengan kepala departemen terbaik di Indonesia dan perguruan tinggi paling inovatif di Indonesia yaitu Institut Pertanian Bogor.

Saat saya berusia 45 tahun, saya sudah menjadi salah satu Menteri terbaik di republik ini. Pada saat itu saya sudah memiliki 5 perusahaan raksasa di bidang agrikultur yang diakui dunia. Dari total keuntungan perusahaan tersebut, 25% akan saya kontribusikan untuk membangun pendidikan melalui Darmawan Foundation yang fokus pada anak-anak kurang mampu diseluruh provinsi di Indonesia.

Saya ingin menjadi negarawan, businessman sekaligus ahli dibidang pemberdayaan masyarakat. Dalam radius 3 kilometer dari kediaman saya tidak boleh ada pengangguran. Semua akan saya berdayakan dalam perusahaan saya agar kehidupannya dapat meningkat.

Saya akan terus belajar dari orang-orang hebat di negeri ini, Elang Gumilang, Jamil Azzaini, dan Anies Baswedan adalah konsultan yang harus saya minta pendapatnya tentang cita-cita dan bisnis saya. Dan orang yang memiliki cambukkan semangat paling kuat untuk perbaikan hidup saya, Ayah.

Dengan padatnya jadwal kuliah, tanggung jawab organisasi dan masyarakat, saya akan mengurangi waktu tidur, tidak lebih dari 5 jam setiap hari. Saya akan meluangkan waktu lebih banyak untuk mengenal orang baru, menjelajah tempat baru, dan belajar hal baru.

Hal yang ingin saya hilangkan dan kurangi pada tahun ini adalah penundaan, online terlalu lama, tidur terlalu lama dan emosi yang begitu mudah pecah. Adapun hal yang akan saya lakukan dan tingkatkan adalah disiplin beribadah tepat waktu di masjid, mengkhatamkan Al-Qur’an setidaknya 6 kali pada tahun 2014, membina adik-adik saya di SMAN 14 dengan ketulusan hati, semangat dan ikhlas, meningkatkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dan Inggris, fokus dalam pekerjaan, olahraga rutin mingguan seperti renang dan lari, membaca setidaknya dua buku per bulan diluar disiplin ilmu saya untuk memperluas wawasan, menghasilkan setidaknya 5 paper tentang disiplin ilmu saya pada tahun 2014.

Selama kuliah, saya akan aktif mengikuti kegiatan kepemudaan di tingkat nasional dan internasional. Saya akan banyak berdiskusi dengan orang-orang bermental triliyuner yang shalih, dengan terus berkonsultasi dengan Ayah saya.

Ya Allah, inilah Proposal Hidupku. Bimbing aku, tuntun aku, jangan Kau tinggalkan aku, kepada-Mu aku kembali, sesungguhnya shalatku; ibadahku; hidupku; matiku kupersembahkan hanya untuk-Mu. Bantu dan kuatkan aku untuk mewujudkan proposal hidupku, jadikan aku hamba-Mu yang sibuk melakukan amal shalih.

Dramaga, 12 Februari 2014
“Gile cuy, ga kerasa udah kelas 3 aja kita, bentar lagi Ujian Nasional, lulus, terus bisa cari duit, ngelamar doi deh”
“Woy! Ngelantur aja kerjaan lu, mana sini LKS gue, udah sampe nomer berapa lu nyalin?”
“Wa’elah Ji, sewot amat lu, ganggu mimpi di siang bolong gue aja”
“Bzzzt, terserahlah, by the way, lu ga berencana kuliah sob?”
“Kuliah? Pingin sih, tapi ga tau lah”
Perkenalkan dua orang sahabat ini, namanya Oji dan Farhan. Mereka satu kelas sejak kelas 2 SMA, saat ini mereka sedang menjalani kehidupan sebagai anak SMA kelas 3. Oji bisa dibilang anak baik, kalo pas istirahat si Farhan belok kanan ke kantin, Oji belok kiri ke masjid, sholat dhuha. Kondisi ekonomi keluarga Oji juga lebih mending dibanding Farhan. Oji masih bisa ikut les, sedang Farhan tidak seberuntung itu. Walau begitu, si Farhan ini agak bandel, dia kecanduan game online yang lagi ngetren waktu itu.

Suatu ketika di pertengahan semester pertama,
“Han, ikut les bareng gue yuk, masalah biaya gampang lah, gimane?”
“Ah ogah, ga mau gue ngerepotin lu Ji. Nanti aja kalo nyokap gue udah ada duit lebih.”
“Ayolah ikut aja, ga enak gue les sendirian, ga ada temen satu sekolah. Soal bayar nanti aja deh, yang penting lu daftar dulu aja ya? Besok gue daftarin. Pokoknya ga pake kata nggak!”
Sejak itu mereka les bareng, Farhan perlahan mulai ikut-ikutan membangun mimpi tentang kuliah. Dia akhirnya menargetkan untuk berkuliah di jurusan Sastra Inggris, dan di universitas terbaik negeri ini. Oji? Jelas dia sudah sejak lama menargetkan untuk kuliah di Fakultas Teknik Industri, di institut teknologi terbaik negeri ini.

Dalam hal akademis, Oji lebih bisa diandalkan dibanding Farhan. Tapi Oji tidak pernah keberatan untuk mengajari Farhan, meski pada akhirnya Farhan akan komentar, “Ah, gini doang mah gue bisa.”
Waktu melesat cepat bagi mereka yang terus mempersiapkan diri. Mereka berdua tumbuh dengan mimpinya masing-masing, tapi tetap dengan kebiasaannya. Oji tetap dengan ibadahnya, dan Farhan juga tak kurang game onlinenya. Semua mereka persiapkan, Try Out, Ujian Nasional, beragam seleksi masuk perguruan tinggi mereka lalui. Semakin sering mereka menyelesaikan soal-soal, semakin yakin mereka akan mimpi-mimpinya.
-----
Hari yang dinanti pun tiba, pengumuman seleksi nasional masuk perguruan tinggi disebar lewat koran dan internet. Oji harus bersabar karena ia gagal pada tes pertama ini. Tentu dia sudah siap dengan segala konsekuensi, dia adalah orang yang selalu mengembalikan segalanya pada Allah. Tak berhenti disitu, dia mencoba seleksi mandiri yang diakan tiap kampus, dan kali ini dia kembali gagal. Dia tidak mengerti dimana letak salahnya. Akhirnya ia mengucap selamat tinggal pada mimpinya untuk menjadi mahasiswa di Fakultas Teknik Industri institut terbaik negeri itu. Dia mengikuti tes lagi dengan tujuan agar bisa kuliah di perguruan tinggi negeri, persiapan matang dia lakukan, namun lagi-lagi, dia gagal.
“Gue ga ngerti kenapa bisa begini Ji…” Keluh Farhan kepada Oji, suaranya bergetar, tangannya berkeringat dingin.
“Elu yang ngajak gue les, ngajak gue sering-sering sholat malam dan sholat dhuha, ngajak gue kenal sama Allah. Tapi kok Allah tega gini sama lu Ji?” Farhan menimpali lagi keluhannya.
“Hahahaha, santai aja Han, ini pasti yang terbaik buat gue. Jangan lu liat sekarang, lu liat nanti. Hmmm, 10 tahun lagi kita buktiin, siapa diri kita sebenernya! Berani ga lu?!”
“Nggak Ji, kalau boleh tuker nasib, gue rela tukeran sama lu, biar aja gue yang ga keterima, lu aja yang kuliah. Elu yang ngajarin gue selama ini, elu yang ngingetin gue kalo lagi males-malesnya. Sementara gue? Ya ampun, PR aja gue nyontek lu mulu Jiii!”
“Kita lihat nanti Han, udah ya gue mau balik dulu. Sekali lagi selamat atas Sastra Inggris UI dan Teknik Industri ITB nya. Sumpah lu keren banget!”
“Oh iya Ji, karena sakitnya nyokap gue makin parah, kemungkinan besar gue ngambil Sastra Inggris, gue takut jauh-jauh dari nyokap, kasihan dia sendirian dirumah… Doain gue ya, Ji..” Tanpa sadar, Farhan meneteskan air mata.
“Yang terbaik buatmu, sob!” Oji menenangkan, dan kemudian menimpali, “Kayak bocah lu, jangan nangis lah, kuliah yang bener! Pokoknya lu lihat 10 tahun lagi gue jadi apa. Tunggu aja! Gue ga akan kalah lagi dari lu Han! Pegang omongan gue!” Oji berkata yakin, matanya berbinar, tidak ada raut kesedihan diwajahnya.
“Sial, kadang gue sebel jadi orang melankolis, terlalu mudah hanyut oleh perasaan... Oke Ji, gue nanti 10 tahun lagi! Gue pegang omongan lu.” Farhan mengusap pipinya sendiri dengan lengan.
Dua tiga kata, percakapan itu berakhir.
-----
Sepuluh tahun bukan waktu singkat, tapi mereka berdua melaluinya dengan baik ditempat berbeda, hingga mereka bertemu melalui jejaring sosial dan merencanakan untuk bertemu kembali.

Restoran oriental menjadi tempat mereka bertemu, percakapan hangat dan hebat itu pun mulai.
“Jadi, sekarang lu dimana Han? Maksud gue, tinggal dimana dan kerja dimana?” Oji yang kala itu menggunakan setelan kemeja merah marun dan calana bahan hitam bertanya pada kawan lamanya.
“Gile lo Ji, basa basi dikit kek lu sama temen, udah tua masih aja kalo ngomong ga pake intro, langsung reff.” Farhan mengeluh sikap kawan lamanya yang tak berubah itu.
“Kayak baru kenal gue aja lu Han, hahaha”
“Yaaa Alhamdulillah sekarang gue udah bisa punya motor sendiri, dikit-dikit nyicil rumah, dan mungkin dua bulan lagi gue bakal nikah, dateng ye Ji! Ternyata jodoh tuh aneh ya, dicari jauh-jauh, ternyata orang yang dekat, hehehe. Kalo kerjaan, gue sempet ngajar di tempat les kita dulu, ngajar bahasa Inggris sampe akhirnya sekarang jadi kepala cabang.”
“Memang banyak kejutan dalam hidup, tinggal pinter-pinter kita naro prasangka baik aja” Oji menimpali
“Nah, kalau lu gimana Ji? Ga sabar gue denger cerita lu.”
“Oh iya, lihat ini dulu deh”
Oji menunjukkan sebuah foto, wanita berkerudung lembut sedang menggendong bayi yang sedang lucu-lucunya. Dibelakangnya ada mobil dan rumah bercat warna cream.
“Cantik kan, Han? Itu istri gue, dan yang digendong itu anak gue, baru enam bulan. Dibelakangnya itu rumah gue, tapi agak jauh, di Venezuela. Gue bertemu istri gue di kampus swasta pinggir jalan raya bogor itu. Gue nyoba gabung bisnis properti keluarganya istri gue. Dan Alhamdulillah, sukses besar.”
“Mukegileeee! Mujur bener nasib lu Han?!”
“Eits, asal lo tau, gue beberapa kali gagal sampe akhirnya bisa berhasil gini. Ga terhitung berapa kali gue dikejar-kejar debt collector. Tapi yang gue pahami, manusia itu punya jatah gagal, dan gue udah ngabisin jatah gagal gue. Gue anggap ujian masuk perguruan tinggi dulu juga jatah gagal gue. Hahaha”
“Kacau lu Ji, kacaaaau! Makin bangga aja gue jadi sobat lu!”
“Hahaha…  Jangan berlebihan gitu lah, hidup memang begini Han, kadang kita ngerasa hidup itu ga adil. Persis saat dulu gue iri ngeliat lu diterima di dua perguruan tinggi sekaligus, jujur gue iri banget, tapi waktu itu gue milih buat ga nunjukkin rasa iri gue didepan lu. “ Oji enteng berbicara dan Farhan terus mendengarkan dengan takzim.
“Kalau mau sedikit mikir, sebenernya hidup ini yang ga adil atau kita yang gak mampu melihat letak keadilan yang dikasih Allah? Atau mungkin kita yang terlalu cepat menilai keadaan, terlalu sibuk berdoa agar Allah mengabulkan keinginan-keinginan kita dan justru lalai, lupa menafakuri apa yang coba Allah sampaikan pada kita.” Oji menambahkan
“Subhanallah Ji, ternyata kita beruntung banget ya, inget ga guru agama kita pernah bilang apa?” Farhan berkata sambil mengaduk minuman didepannya.
“Lihat endingnya!” mereka menjawab serentak, kemudian tertawa dan hanyut dalam kisah masa SMA.
----

Percaya atau tidak, kisah ini nyata, memang  redaksinya diganti. Semoga cerita ini bermanfaat. Selamat berbagi, mari saling memberi inspirasi (:

"Wa lal-aakhiratu khairul laka minal uulaa"
Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. (Adh-Dhuhaa : 4)
Tag :, Tag :
siapa yang tidak tahu kunang-kunang? tapi apakah kalian pernah melihatnya secara langsung? sekadar tambahan pengetahuan tentang kunang-kunang, ia adalah serangga dari ordo Coleoptera, satu ordo dengan kumbang-kumbang yang  biasa kita lihat. kunang-kunang biasa hidup di tempat yang memiliki udara bersih, air bersih dan tanah yang subur. maka tak heran jika sekarang kita makin sulit menemukannya.

keberadaan kunang-kunang dapat dijadikan indikator sehat tidaknya lingkungan. terbukti dari habitat kunang-kunang berada di tempat berkelembapan udara tinggi. kebanyakan spesies kunang-kunang ditemukan di daerah dengan kelembaban tinggi dan hangat seperti kolam, sungai, lembah, parit dan padang rumput. udara lembab mengandung banyak uap air yang dimanfaatkan kunang-kunang untuk bernapas dan menghasilkan cahaya.

kunang-kunang memiliki organ dan sel khusus (Photocytes) yang mampu menghasilkan cahaya, terdapat pada segmen pertama atau kedua terakhir dari abdomen. kunang-kunang menghasilkan cahaya melalui serangkaian proses. dari proses dihasilkannya cahaya dapat diketahui oksigen dan nitrogen monoksida dalam udara bersih memiliki peran vital. pencahayaan ini berkaitan erat dengan tingkah laku kawin kunang-kunang, selain sebagai tanda peringatan bahaya serta untuk melindungi diri dari predator. setiap spesies kunang-kunang memiliki cahaya berbeda, yang membedakan mereka berkomunikasi dengan yang lainnya.  dan saya baru tahu, ternyata yang memiliki sayap dan bisa terbang hanya kunang-kunang jantan. sementara yang betina menunggu di rerumputan. nah tentang kerlip cahaya, itu semacam ‘kode’. biasanya sang pejantan yang berkelip dahulu kemudian disusul sang betina. jika masa kawin selesai, kunang-kunang betina biasanya berhenti berkedip. lucu ya?
saya sendiri baru empat kali melihat kunang-kunang secara langsung. tentu ini adalah momen langka, sebab kunang-kunang hanya memiliki siklus hidup selama 2-3 minggu dalam bentuk imago (dewasa), dan hampir satu tahun dalam bentuk larva yang tinggal didalam tanah. inilah sebab mengapa kunang-kunang membutuhkan tanah yang subur untuk hidup, sebab larvanya diketahui memakan cacing yang ada didalam tanah, penggunaan pupuk yang tidak sesuai akan meningkatkan kadar garam dalam tanah dan mengakibatkan kematian pada larva kunang-kunang. 

kembali lagi ke pengalaman berjumpa dengan kunang-kunang, pertama kali saya mendapati kunang-kunang di kebun milik ayah saya di desa Naringgul, Puncak. terlihat ada beberapa hewan ini beterbangan disekitar aliran sungai. saat itu saya masih SD, sehingga rasa ingin tahu saya mendorong untuk menangkapnya. saya menangkap beberapa dan menaruhnya didalam toples. namun ketika pagi hari, saya bosan karena cahayanya tidak sejelas diwaktu malam, akhirnya kunang-kunang itu saya lepas kembali. bicara tentang SD, pernahkah kalian mendengar kawan kalian berkata bahwa kunang-kunang berasal dari kuku orang yang sudah meninggal? memang sekilas bentuk guratan pada abdomennya mirip kuku jari manusia xD

pengalaman kedua saat berlibur bersama keluarga besar di daerah Bandung. saya lupa nama daerahnya, tapi disana memang cukup terjaga lingkungannya. saya melihat lebih banyak kunang-kunang disini, jauh lebih banyak dari pengalaman pertama saya. pengalaman ketiga saya adalah saat menjadi panitia kelas 3 Tafakur Alam SMAN 14. dan yang terakhir, beberapa waktu lalu saat melewati jalan alternatif kampus IPB. namun saya ragu dengan yang terakhir, sebab dihari kemudian, saya melihat bahwa air yang mengalir di sekitar sawah terlihat kotor, namun saya akan kembali mengunjungi tempat itu lagi dan memastikan apakah yang saya lihat adalah kunang-kunang atau bukan. semoga saja masih dapat menemukannya.

udara, air, dan tanah yang bersih akan melestarikan populasi kunang-kunang. oleh karena itu mari menjaga lingkungan. banyak hal sederhana yang dapat dilakukan mulai dari sekarang seperti merawat dan memperbanyak menanam pepohonan sehingga dapat membantu menetralisir udara di sekitar kita, menjaga aliran air agar tetap bersih, dan menjaga kesuburan tanah dengan membuat lubang resapan biopori. kunang-kunang di Jakarta, mungkinkah? mungkin! yuk bareng-bareng kita jaga kota ini, dan kita nantikan kembali kehadiran si kecil menawan, si kunang-kunang.
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Bisa sampai di kamar mungil ini adalah anugerah yang sangat indah. Betapa selama ini gue ga sadar kalau tempat ini berharga sampai semua rangkaian kejadian hari ini.

Semalam gue nginep di Alhurriyyah bareng Yuanda dan Abil, kita belajar Klimatologi bareng. Kita belajar sampe jam dua kurang dini hari. Dan akhirnya tertidur dan bangun lagi pukul 4 pagi, ngelanjutin belajar sambil nunggu adzan berkumandang.

Sehabis sholat subuh, kita pulang ke kontrakan masing-masing. Dan gue berencana buat segera balik ke kampus untuk lanjutin review materi, lumayan ada beberapa jam sebelum ujian jam 9. Gue segera cari sarapan, makan, beres-beres, dan mandi. Jam 6 pagi gue sudah masuk gerbang kampus lagi.
Kadang-kadang gue mikir. Kontrakan gue ini dikampus kali ya, karena lebih dari 2/3 hari gue ada di kampus. Malah kadang ga balik ke kontrakan.

Jam 6 pagi di kampus, gue bingung mau belajar dimana, akhirnya gue memutuskan ke Lapangan Gymnasium. Ini hobi lama gue, baca buku disini sambil lihat langit warna jingga (bisa pagi atau sore). Dengan santai, gue memarkirkan motor gue di depan gedung Student Center, lalu cari tempat yang pas buat menikmati pagi ditemani buku Klimatologi.

Jam setengah delapan, gue sudah selesai mereview materi satu putaran, dan akhirnya gue memutuskan buat pindah tempat.

Ketika gue ke parkiran SC, jeng jeeeeeng… Helm gue hilang dan ban belakang motor gue kempes. Tapi jujur, gue ga ngerasa kesel atau marah. Justru gue mikir sebaliknya. “alhamdulillah, helm yang hilang, bukan motornya.” Dan “alhamdulillah ban belakang yang kempes, nggak dua-duanya.”

Gue nekat tetep ngendarain motor itu, karena tengsin juga kalo harus ngedorong motor dikampus sendirian dan pagi-pagi begini. Gue ke parkiran CCR (Common Class Room) karena ujian gue nanti disitu tapi ternyata parkirannya masih ditutup. Yak selamat Mogiiii!!!

Akhirnya di tempat satpam biasa jaga, gue ngeluarin buku Klimatologi lagi dan membaca tentang evapotranspirasi. Disini gue belajar sambil memperhatikan pohon dan vegetasi lain disekitar gue, lumayanlah, biar tambah lengket materinya.

Gue belajar disitu sampe jam 8, dan sepertinya belum ada tanda-tanda parkiran akan dibuka. Gue putuskan pindah parkiran ke depan HMIT. Disitu gue nanya ke satpam, dimana tempat tambal ban terdekat, doi bilang ada di Berlin. Oh iya bener juga, gue sering lihat.

Akhirnya gue masuk ke CCR, sampai depan lobbi, ditegur satpam, “Dek, kamu mau ngapain disini? Kuliah atau main? Sepatumu jangan asal gitu dipakenya. Tolong yang rapih kalau di CCR.” Wahahaha, malu sekaligus pengen ketawa, karena memang sepatu yang gue pake kegedean dan gue injek gitu belakangnya. Oke salah gue, dan gue segera ngebenerin cara pake sepatu yang super kebesaran itu (ukurannya 45 cuy), tapi gue beruntung, untung ga disuruh pulang dan ganti sepatu.

Kemudian saat melewati meja security, ternyata ada helm gue disitu. Hei! Ada apa ini?
Gue langsung ke satpam yang tadi dan nanya, “Pak, ini helm saya, baru aja hilang, kok bisa ada disini ya Pak?” Satpamnya jawab, “Itu urusannya sama komandan saya, kamu yang kebut-kebutan ya?” “Enggak, Pak, saya ga pernah kebut-kebutan, apalagi di area kampus.” ”yaudah, pokoknya itu urusannya sama komandan saya.” “Oh, yasudah Pak, saya ujian dulu, permisi Pak…”

Gue berfikir bahwa ini adalah hari yang istimewa. Gue ga mau ambil pusing dengan semua kejadian mulai dari helm, ban kempes, dan sepatu injek ini membuat hari gue rusak. Gue tetep berpikir positif sambil sering-sering istighfar.

Mungkin bagian ujian ga usah diceritakan, singkat cerita, tidak mudah :’)
Setelah ujian selesai, gue kembali menemui satpam dan berusaha membuat semuanya clear. Sebelum ketemu satpam, gue ngewanti-wanti diri gue buat nggak sok tau atau ngerasa bener. Bismillah, gue jalan menemui satpamnya.

Ternyata gue masih harus nunggu komandannya. Beberapa menit berlalu, akhirnya beliau datang. Wajahnya sangar broh *nelen ludah*

Gue coba menjelaskan kejadiannya, jadi intinya, gue datang kepagian, belum ada parkiran buka, jadi gue naro motor di depan SC. Begitu singkatnya. Dan dengan nada tinggi, bapak itu bilang, “Kamu ga bisa seenaknya gitu dong. Kalau motor kamu hilang, siapa yang tenggung jawab? Kan saya juga yang kena. Kamu tau? 3 motor sudah yang hilang karena parkir sembarangan di lingkungan kampus. Itu di meja saya masih ada satu helm lagi punya orang yang suka kebut-kebutan pake Ninja. Saya ga peduli dia anak jendral atau apalah, tapi tolong kalian ngerti kalau kampus ini punya aturan, ga bisa seenaknya.”

Gue ga coba nyela atau membela diri. Gue akui kesalahan gue. Dan alhamdulillah, dengan sikap gue yang tetap dingin dan menghargai saat bapaknya bicara, beliau mengambil helmnya dan nada bicaranya mereda. Gue minta maaf dan menjabat tangan bapak itu dan mengucap salam.

Menuju parkiran HMIT, gue jalan sendiri lagi-lagi sambil senyam-senyum. 11 Januari ini memang harusnya istimewa, karena pada tanggal ini, 22 tahun yang lalu, orang tua gue nikah. Tapi cerita belum berhenti sampai disini. Gue harus bawa motor ini ke tukang tambal ban terdekat. Gue mengendarai motor dengan tertatih dengan sensasi naik kuda karena memang jalannya begitu.

Tanpa diduga, bantuan pertama datang, Gerry melihat gue dan akhirnya nemenin gue jalan pelan-pelan sampe berlin, padahal doi pake motor juga. Sayang, beribu sayang, perjalanan yang harusnya dekat namun terasa sangat jauh itu tidak membuahkan hasil. Tambal ban tutup.

Pas gue maksain untuk make motor itu ke tambal ban di Cikarawang, dia udah ngambek duluan pas sampe depan Faperta, ban dalamnya keluar dan membelit tromol belakang, walhasil gue robek sekalian itu ban. Kemudian bantuan kedua datang, Awan membantu gue memasukkan ban luar yang keluar dari velg(?) *nah, bingung kan lu?*dan akhirnya motor bisa jalan lagi meski ga bisa dinaikkin, harus didorong.

Sampai depan FMIPA, tadaaaa! Bantuan ketiga datang, Adit bersedia membantu gue ngedorong sampe Cikarawang. Kita jalan bertiga, gue dan Adit ngedorong motor, Gerry ngecek tambal ban yang ada di Cikarawang, khawatir tutup juga. Ga lama kemudian, Gerry kembali dan bilang oke. Gerry di depan sebagai ‘Safety Bike’, sepanjang jalan gue ketawa-tawa dan ngobrol ga jelas sama Adit. Kalo dipikir-pikir, pasti awkward banget ngedorong motor sendirian ditengah kampus, bisa hancur image gue *bagian ini dapat abaikan*

Alhamdulillah, akhirnya sampe di tukang tambal ban terdekat. Total reparasi ban 42ribu karena ban depan ternyata juga bocor (?) pas di bengkel, ketemu Garda dan Angga. Kita ngobrol macam-macam disitu, mulai dari tanaman, ujian barusan, hingga akhirnya ngomongin farhat abbas yang berujung di kampanye parpol.
Disela-sela perbincangan, gue sms bokap buat telfon balik. Ga lama kemudian di telfon dan gue ngucapin selamat hari jadi yang ke-22 sama mamah. Gue juga bilang kayaknya ga jadi pulang karena terlalu lelah hari ini dan khawatir sama kondisi motor, ditambah hari senin jam 8 ada ujian. Alhamdulillah bokap gue ngerti, meskipun gue harus melewatakan acara makan-makan barengnya…. *gigit sendok*. Pas gue cerita kejadian hari ini, bokap gue seperti biasa, selalu santai bahkan ngetawain, emang deh bokap udah kayak sobat sendiri, hehe *bersyukur*

Setelah motor selesai di reparasi, gue kembali ke kontrakan ini. Ke kamar mungil tempat gue merancang mimpi masa depan selama di kampus ini. Juga gue kembali menarik pelajaran besar hari ini.
1.       Jangan parkir motor sembarangan
2.       Berpikiran positif, jangan duluin emosi
3.       Mungkin kita punya masalah, tapi boleh jadi, orang lain punya masalah yang lebih rumit, terimakasih telah memberi pelajaran berharga pada saya yang sembrono ini, Pak Satpam :’)
4.       Berbuat baiklah kepada siapapun, karena mungkin suatu saat orang yang kita perlakukan dengan baik akan melakukan hal yang sama. Membantu disaat yang tidak kita duga!
5.       Hargai kampus sebagai institusi terhormat, jangan pake sepatu yang abal lagi ya, Gi…
6.       Kita berencana, tetap Allah yang menentukan. Mungkin gue harus lebih fokus ke ujian hari senin nanti :D

Yap, sekian sharing kisah gue hari ini. Semoga kalian yang mampir untuk membaca tulisan ini bisa mendapat manfaat. Dan gue bisa jadi pribadi yang lebih skeptis. (aamiin!)



Special thanks for Adit, Gery, Garda, Awan, Angga, Kistia dan Wisnu. I’m lucky having you all guys :’D
Tag :
"berbagi waktu dengan alam...
kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya...
hakikat manusia"

mungkin lirik lagu inilah yang cocok untuk perjalanan singkat kemarin ini. ya, karena hampir satu semester berkutat di kampus tanpa sempat menyempatkan mata melakukan relaksasi. gue kali ini melakukan perjalanan bersama teman-teman satu departemen, ada Juna, Bari, Dicky, Gerry, Alfie dan Wisnu. 

kemarin malam, kita janjian kumpul di Himagron jam setengah delapan malam, tapi akhirnya baru bisa kumpul jam sembilan lewat sekian karena masih banyak yang punya agenda. Bari dapet amanah jadi kadept keuangan di BEM Faperta, Gerry juga jadi staff PSDM di BEM Faperta, mereka ada gathering perdana gitu, jadinya kemaleman. dan gue sendiri, jadi pewawancara BEM TPB *asik*, tahun ini sedang ingin menikmati menjadi pemerhati #eaaa. yang kasian adalah si Alfie, dia datang ontime jam setengah delapan, walhasil clingak-clinguk sendirian dia di himagron. Dicky, Juna, dan Wisnu? yasudahlah ya, ga penting kalo diceritain semua, haha.

Singkatnya, kami berangkat bertujuh dengan empat motor. formasi kami :
depan : gue + Juna
kedua : Bari
ketiga : Gerry + Dicky
keempat : Wisnu + Alfie

setelah briefing singkat dan berdoa bareng, jam sepuluh malam kami berangkat, dan Alhamdulillah, pukul sebelas lewat tiga puluh, kami tiba di tempat tujuan, Desa Naringgul, Puncak. 

sesampainya disana, apa yang dilakukan? yak, makaaaan~ beginilah prosesi kami makan
makan mie instan sensasi hotplate. benar-benar hotplate. real hotplate. langsung dari panci
malam itu kami menyusun rencana untuk besok pagi, rencananya mau bangun dan sholat subuh di Masjid At-ta'awun, tapi nyatanya gagal karena bangun pada kesiangan, jam lima lewat limabelas cuuuy *akibat kelelahan di perjalanan dan baru tidur jam setengah satu.
bangun pagi, kami bikin minum hangat, makan biskuit dan kawan-kawannya, juga langsung ke destinasi pertama.
 beginilah perjalanan kami, cukup licin jalannya karena sekarang sudah mulai hujan.

sesampainya diatas, kami langsung mencari spot asik untuk menikmati pemandangan. 

meskipun gue sudah sering ke tempat ini, tapi gue belum pernah bosan. karena memang gue suka tempat seperti ini, tempat paling murah dan keren buat merenung. 
setelah menyaksikan orang yang terbang (pake paralayang) kita sepakat buat sholat dhuha di Masjid Atta'awun. kira-kira jam 8.30 kita sudah sampai di Masjid yang keren ini. viewnya menghadap bukit yang tadi kita tanjak, suasana yang luar biasa nyaman, dan arsitektur yang keren banget. 
 setelah memberikan 'makan' pada hati dengan mengingat Allah, akhirnya perut juga protes, minta dikasih makan. kamipun bergegas kembali ke gubuk aki, dengan membeli beberapa bahan yang bisa dimakan, telur, ikan asin, cabai, bawang merah, krupuk dan lain-lain.

ketika masak, banyak hal konyol yang terjadi. semua punya pikiran masing-masing tentang bahan yang kita punya. buahnya, masakan rasanya ga karuan. tapi secara teknis, asik cuy. setelah semua matang dan siap, kamipun menggelar daun pisang sebagai wadah.
setelah makan, kami berleha-leha, ada yang tidur, main hape, keliling, jajan, dan macem-macem sembari nunggu adzan dzuhur. abis sholat, kita bersiap-siap ke destinasi berikutnya, yaitu Telaga Warna, sebuah telaga ditengah riung gunung.
 menurut temen-temen gue, tempat ini biasa aja, tapi buat gue, tempat ini beda. karena selain sepi, gue takjub melihat ada telaga yang lumayan luas dan kedalamannya 15 meter. disini juga banyak monyet berkeliaran, ada flying fox, dan yang menarik kita akhirnya adalah rakit bambu!
kita naik rakit bambu bertujuh, ditengah-tengah telaga gue menanyakan some weird questions ke bapak-bapak pemilik rakitnya seperti, "disini ada buaya ga pak?" atau "kita ga bakal nyasar kan pak?"
sempet sih ngerasa dodol, tapi yasudahlahyaa, namanya juga liburan *apa hubungannya -__-
disini kita juga dapet kesempatan ngasih makan monyet-monyet yang berkeliaran. tapi kudu hati-hati, masih agak agresif.

yak, jadi demikianlah perjalanan singkat gue dan kawan-kawan. Alhamdulillah semua sehat sampe sekarang, hehe. dan ternyata perjalanan ini hanya menghabiskan 26ribu rupiah, lumayan banget bukan? n_n

sejatinya, bukan seberapa jauh kita pergi, tapi seberapa banyak pelajaran yang dapat kita ambil. 
kunjungan gue kali ini agak serius, karena bulan depan Insyaa Allah gue bakal mulai mengaplikasikan ilmu yang sudah gue dapet di bangku kuliah. gue bakal memulai hidup sebagai petani (di luar negeri, orang selalu bangga ketika pekerjaannya adalah seorang petani, karena memang petani diluar negeri itu sangatlah sejahtera) semoga Allah mempermudah jalannya.
ini dia gubuk aki, tempat kita bermalam
kalo kata Bung Karno, "Pertanian adalah urusan hidup atau mati."
tapi kata gue, "Pertanian adalah perkara eksis atau tidaknya suatu peradaban. Tidak akan maju suatu bangsa jika masih menggantungkan kebutuhan pangannya kepada negara lain."
inilah "kantor" gue, mirip hanggar pesawat ya? :D



Syair untuk Seorang Petani dari Waimital, Pulau Seram, yang pada Hari Ini Pulang ke Almamaternya
I
Dia mahasiswa tingkat terakhir
ketika di tahun 1964 pergi ke pulau Seram
untuk tugas membina masyarakat tani di sana.
Dia menghilang
15 tahun lamanya.
Orangtuanya di Langsa
memintanya pulang.
IPB memanggilnya
untuk merampungkan studinya,
tapi semua
sia-sia.

II
Dia di Waimital jadi petani
Dia menyemai benih padi
Orang-orang menyemai benih padi
Dia membenamkan pupuk di bumi
Orang-orang membenamkan pupuk di bumi
Dia menggariskan strategi irigasi
Orang-orang menggali tali air irigasi
Dia menakar klimatologi hujan
Orang-orang menampung curah hujan
Dia membesarkan anak cengkeh
Orang kampung panen raya kebun cengkeh
Dia mengukur cuaca musim kemarau
Orang-orang jadi waspada makna bencana kemarau
Dia meransum gizi sapi Bali
Orang-orang menggemukkan sapi Bali
Dia memasang fondasi tiang lokal sekolah
Orang-orang memasang dinding dan atapnya
Dia mengukir alfabet dan mengamplas angka-angka
Anak desa jadi membaca dan menyerap matematika
Dia merobohkan kolom gaji dan karir birokrasi

Kasim Arifin, di Waimital
Jadi petani.

III
Dia berkaus oblong
Dia bersandal jepit
Dia berjalan kaki
20 kilo sehari
Sesudah meriksa padi
Dan tata palawija
Sawah dan ladang
Orang-orang desa
Dia melintas hutan
Dia menyeberang sungai
Terasa kelepak elang
Bunyi serangga siang
Sengangar tengah hari
Cericit tikus bumi
Teduh pohonan rimba
Siang makan sagu
Air sungai jernih
Minum dan wudhukmu
Bayang-bayang miring
Siul burung tekukur
Bunga alang-alang
Luka-luka kaki
Angin sore-sore
Mandi gebyar-gebyur
Simak suara azan
Jamaah menggesek bumi
Anak petani mengaji
Ayat-ayat alam
Anak petani diajarnya
Logika dan matematika
Lampu petromaks bergoyang
Angin malam menggoyang
Kasim merebah badan
Di pelupuh bambu
Tidur tidak berkasur.

IV
Dia berdiri memandang ladang-ladang
Yang ditebas dari hutan rimba
Di kakinya terjepit sepasang sandal
Yang dipakainya sepanjang Waimital
Ada bukit-bukit yang dulu lama kering
Awan tergantung di atasnya
Mengacungkan tinju kemarau yang panjang
Ada bukit-bukit yang kini basah
Dengan wana sapuan yang indah
Sepanjang mata memandang
Dan perladangan yang sangat panjang
Kini telah gembur, air pun berpacu-pacu
Dengan sepotong tongkat besar, tiga tahun lamanya
Bersama puluhan transmigran
Ditusuk-tusuknya tanah kering kerontang
Dikais-kaisnya tanah kering kerontang
Dan air pun berpacu-pacu
Delapan kilometer panjangnya
Tanpa mesin-mesin, tiada anggaran belanja
Mengairi tanah 300 hektar luasnya
Kulihat potret dirimu, Sim, berdiri di situ
Muhammad Kasim Arifin, di sana,
Berdiri memandang ladang-ladang
Yang telah dikupasnya dari hutan rimba
Kini sekawanan sapi Bali mengibas-ngibaskan ekor
Di padang rumput itu
Rumput gajah yang gemuk-gemuk
Sayur-mayur yang subur-subur
Awan tergantung di atas pulau Seram
Dikepung lautan biru yang amat cantiknya
Dari pulau itu, dia telah pulang
Dia yang dikabarkan hilang
Lima belas tahun lamanya
Di Waimital  Kasim mencetak harapan
Di kota kita mencetak keluhan
(Aku jadi ingat masa kita diplonco
Dua puluh dua tahun yang lalu)
Dan kemarin, di tepi kali Ciliwung aku berkaca
Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi
Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku
Ketika aku mengingatmu, Sim
Di Waimital engkau mencetak harapan
Di kota, kami …
Padahal awan yang tergantung di atas Waimital, adalah
Awan yang tergantung di atas kota juga
Kau kini telah pulang
Kami memelukmu.

Itulah penggalan Puisi Taufik Ismail dengan judul: “Syair untuk Seorang Petani dari Waimital, Pulau Seram, yang Pada Hari ini Pulang ke Almamaternya,”.  

Dibacakannya puisi tersebut seolah-olah agar Kasim hadir pada reunian tersebut. Kasim adalah sosok sarjana ideal yang mengabdi kepada masyarakat tanpa pamrih, tanpa gaji.

Puisi ini dibacakan Taufik Ismail pada hari Wisuda Institut Pertanian Bogor di Kampus Darmaga, Sabtu, 22 September 1979, untuk seorang temannya bernama M. Kasim Arifin. Puisi ini dibacakan Taufik bertepatan saat M. Kasim Arifin menerima gelar Insinyur Pertanian.

Taufik Ismail membacakannya  kembali (ditambah bagian IV) pada acara Reuni Emas 50 Tahun IPB yang digelar di Jakarta Convention Centre (JCC), Sabtu (5/10).

Lima ribu alumni IPB tampak hikmat mendengarkan puisi tersebut. Diceritakan Taufik, Kasim adalah mahasiswa tingkat terakhir, ketika di tahun 1964 pergi ke Pulau Seram, untuk tugas membina masyarakat tani di sana.

Dia menghilang 15 tahun lamanya. Orang tuanya di Langsa memintanya pulang. IPB memanggilnya untuk merampungkan studinya, tapi semua sia-sia.

Kasim yang sudah 15 tahun dikabarkan hilang,  ternyata membina para petani dan warga di Waimital, dan sukses. Ia enggan memenuhi panggilan Rektor IPB kala itu, Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasoetion. Namun, pada panggilan ketiga, datanglah utusan Rektor, yaitu sahabatnya Saleh Widodo, baru Kasim mau datang ke Bogor.

Kasim terharu karena penghargaan almamaternya, tapi pada hakikatnya dia tidak memerlukan gelar akademik. Pada hari wisudaan itu Kasim yang berbelas tahun berkaus oblong dan bersandal jepit saja itu merasa gerah bila mengenakan jas, dasi dan sepatu, hadiah patungan sahabat-sahabatnya.  


Selesai wisuda Kasim mendapatkan berbagai tawaran pekerjaan, namun yang dilakukannya malah kembali ke desa, ke Waimital. Baru setelah itu, Kasim menerima pekerjaan sebagai dosen di Universitas Syiah Kuala, di Banda Aceh, meskipun hatinya tetap condong untuk mengabdikan keahliannya kepada para petani. Ia pensiun dari jabatannya sebagai dosen pada 1994.

Pada tahun 1982 Kasim mendapatkan penghargaan "Kalpataru" dari pemerintah untuk jasa-jasanya membangun masyarakat desa dengan wawasan lingkungan hidup. Kasim yang tidak gila pada penghargaan, “membuang” kalpataru itu di bawah kursi dan meninggalkannya begitu saja, hingga akhirnya seseorang mengantarkan kalpataru itu ke rumahnya.

Kasim menikah dengan Syamsiah Ali, seorang guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di Banda Aceh. Mereka dikaruniai tiga orang anak. Anak sulungnya belajar di Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala. "Saya terlambat menikah," Kasim mengaku. Tidak mengherankan, karena sebagian hidupnya diabdikannya sepenuhnya bagi masyarakat Waimital.

(Sumber rujukan: Hanna Rambe, "Seorang Lelaki di Waimital", Penerbit Sinar Harapan, 1983.
Suara Agraria, 2013). 
Wahai... memang siapa kamu?!
Beraninya mencuri kata "Maha" untuk depan namamu
Sadarkah kamu apa artinya itu?
Atau jangan-jangan kamu hanya mengaku-ngaku!
Maka tanyakankanlah pada Kasim, Mahasiswa Pertanian
Yang rela 15 tahun tak pulang ke almamater apalagi kampung halaman
Demi terbitkan satu-dua cahaya di Waimintal, Sulawesi Utara
Berbekal kaos berlumpur dan sandal yang tak sama warnanya
Atau tanyakanlah artinya pada Iwan, Ida, dan Hadi di kuburnya
Tiga Trisakti yang ditusuk peluru panas reformasi
Tanyakan pada mereka apa itu mahasiswa
 
Dosa zaman kukira
Saat para orang tua mengemis harap pada anaknya;
"Nak, segeralah beli topi toga itu dengan cara apa saja yang ananda damba,
Dan segera cakar langit Jakarta!"
 
Duhai... Merah putih itu koyak lagi
Badai itu datang lagi
Bahkan kali ini ia lebih gemuruh dari ombak di laut jauh!
Bahkan saat ini ia lebih dahsyat dari topan yang merayap dari barat!
 
Wahai... Negeri nestapa ini poranda lagi
Air mata ini menggenang lagi
Tapi jangan sekali-kali,
Kau tanya kemana Mahasiswa?
Jangan ganggu dia, dia sedang sibuk tiarap di atas sofa
 
Sudah sampaikah di gendang telingamu?
Suara gemeretak gigi menggigil di trotoar sana
Di tengah deras hujan ibukota, tanpa ayah dan orang tua
Sementara di seberang jalan, seorang tua mengeluhkan AC di hotel bintang lima?
Terlalu dingin, katanya
Dan tolong, jangan kau tanya padaku kemana Mahasiswa
Jangan ganggu dia, dia masih sibuk berkeliling mall-mall tengah kota
 
Sudah sampaikan di retina matamu?
Gurat derita orang-orang yang diinjak-injak di negerinya sendiri
Jadi babu jongos di tanah lahirnya, apalagi diluar negeri
Sementara pejabatnya makin gendut makan keringat ibu pertiwi
Pemudanya teler di ujung gang dekat subuh dini hari
Sekali lagi kumohon, jangan kau tanya dimana Mahasiswa
Jangan ganggu dia, dia sedang asoy berdua-dua di taman ria
 
Tapi, kalau benar ada bara cinta di hatimu
Maka bakarlah setiap kedzaliman di depan retina matamu!
Kalau benar ada badai pecah di kedalaman jiwamu
Maka amuklah setiap keji sampai ujung negerimu!
Amuklah mereka dengan amarah angkara murka malaikat penjaga neraka
 
Kalau benar kau tak mengaku-ngaku
Hari ini negerimu tengah dilanda panjang kemarau
Maka jadilah kamu satu-dua tetes hujan, meski gerimis
Hari ini negerimu dikepung tentara kegelapan
Maka jadilah kamu cahaya fajar

Puisi ini kudapat dari sebuah kertas yang tercecer diruang kelas. Aku mengantuk di kelas, entah apa yang telah kulakukan hingga aku merasa begitu ngantuk, entah kenapa aku begitu tak bergairah menatap slide yang sedang ditampilkan dosen.
Namun, tulisan ini menggamparku seketika. Aku tercekat dalam riuh. Jantungku berdebar cepat. Apa iya aku mahasiswa? atau aku hanya mengaku-ngaku?

Sumber : Buletin Hikmah Mahasiswa Fisika 48 IPB

Puisi :
Untuk (yang mengaku-ngaku) Mahasiswa







Tag :, Tag :

Tweet to me!

Tahukah kamu?

""

Followers

Featured Posts

Copyright © 2013 Mogi Bian Darmawan | Dark Simple Blogger Template Powered by Blogger | Created by Renadel Dapize | Ori. BRS-bt Djogzs | All Rights Reserved